YESUS, BENTENG PERLINDUNGAN

Oleh : Angela Gaby

Malam itu, Sabtu 22 Oktober 2005, saya mengahadiri acara sweet seventeen salah seorang teman saya di hotel JW Marriot, Kuningan.  Beberapa jam sebelum acara berlangsung, saya sempat diliputi kebimbangan apakah harus pergi atau tidak.  Namun se-telah salah seorang teman menawarkan untuk ikut bersama mobilnya, saya akhirnya memutuskan untuk pergi.  Tidak ada yang istimewa yang saya dan ketiga teman saya rasakan, ketika kami berangkat semua normal-normal saja.  Dan selama pesta ber-langsung semua pun berjalan baik. Tidak ada hal-hal aneh yang kami lakukan, tidak ada alkohol, narkoba apalagi yang lebih buruk dari itu.

Kira-kira pukul 21.30 kami memutuskan untuk pulang.  Beberapa saat sebelum kami meninggalkan hotel Marriot, mama menelpon dan saya katakan bahwa akan segera pulang.  Dalam perjalanan pulang, semua terasa normal, namun beberapa saat sebelum kami akan keluar dari tol Jakarta-Merak, tepatnya di pintu Karawaci, saya sudah mulai merasa ada yang tidak beres.  Perasaan saya waktu itu mendadak tidak enak dan karena itu saya memejamkan mata.  Sesaat kemudian, ketika mobil kami memasuki tikungan, tiba-tiba saya mendengar suara berisik, seperti sebuah benda yang terbanting, semua begitu cepat, dan ketika saya membuka mata, mobil sudah dalam keadaan terbalik.  Saya tidak ingat persisnya berapa kali mobil terbalik dan terbanting, tapi yang jelas suara dentuman itu keras sekali dan setengah dari mobil bagian atas kebawah ringsek berat dan hampir semua kaca pecah.

Karena saya sangat sadar, saya kemudian tahu bahwa kami telah terhempas keluar dari jalan.  Saat itu saya takut akan tenggelam, karena ada suara seperti aliran air.  Jadi saya memutuskan untuk segera keluar dari mobil.  Saya mencoba membuka pintu mobil, ter-nyata tidak bisa.  Saya mencoba untuk mendobrak kaca jendela, juga tidak bisa.

Lalu saya membuka sabuk pengaman dan keluar melalui jendela balakang.  Sesaat sebelum keluar, saya terlebih dahulu mengecek bagian belakang mobil, ternyata kedua teman saya sudah tidak berada didalam mobil.  Jadi saya keluar, kemudian mencari mereka.

Karena sudah banyak yang membantu, saya meminta beberapa orang untuk me-nyelamatkan teman saya yang menyetir mobil.  Sementara saya berkeliling mencari dua orang teman saya yang duduk dikursi belakang.  Akhirnya salah seorang ditemukan terjepit dibawah mobil dalam keadaan telah meninggal.  Dan teman saya yang lain ditemukan tergeletak dibawah sebuah pohon, beberapa meter dari mobil kami.  Ia sempat dilarikan ke rumah sakit terdekat meskipun akhirnya nyawanya tidak bisa diselamatkan, akibat cedera yang ia alami.

Menyadari hebatnya kecelakaan yang kami alami, rasanya sayapun harusnya menjadi salah satu korban yang tewas.  Tapi ajaibnya, saya hanya menderita sedikit lecet di ta-ngan dan bengkak dekat bagian leher, karena tergencet sabuk pengaman; padahal tempat dimana saya duduk, merupakan bagian mobil yang mengalami kerusakan terparah.  Dan disamping itu, saya masih dapat bertahan semalaman mengurusi jenazah kedua teman saya yang tewas malam itu.

Ajaib, Tuhan Yesus itu!  Ia memang benar adalah benteng keselamatan bagi siapa saja yang berharap kepadaNya.  Saya diluputkan dari kecelakaan malam itu, tidak lain adalah karena anugerah Tuhan dalam hidup saya.

Satu hal luar biasa yang membuktikan kuasa doa adalah, pada saat jam sepuluh malam, ketika kami berangkat dari hotel Marriot, ternyata mama saya dan juga orang tua dari teman saya yang malam itu mengendarai mobil, digerakkan Tuhan untuk berdoa khusus untuk masing-masing anaknya, yaitu kami berdua.

Kebetulan juga setiap jam sepuluh malam, merupakan jam doa pribadi saya.  Sesaat ketika mulai berdoa, saya tidak bisa berdoa yang lain, kecuali mengucapkan : Tuhan, saat ini hanya Engkau yang sanggup menyelamatkan Gaby puteri saya; kenang Ibu Naomi ibunda Gaby.  Dan dilain tempat, orang tua dari teman anak saya juga ternyata sedang berdoa untuk puteri mereka diwaktu dan jam yang sama.  Sungguh luar biasa, memang Tuhan Yesus lah yang menyelamatkan puteri saya dari kecelakaan itu.

Saat ini saya sadar,  bahwa  saya hidup dalam waktu yang hanya “dipinjamkan” oleh Tuhan, karena sebenarnya hidup saya sudah selesai pada malam naas itu.  Lewat kejadian ini saya lebih memiliki belas kasihan pada teman-teman saya yang belum sungguh-sungguh dalam Tuhan dan saya bertekad akan terus menjadi teladan dan saksi bagi mereka.

Sungguh, Tuhan kita sangat dahsyat!

Sumber : Charisma Indonesia dikirim oleh Lisa Karnadi

gambar8WL13-JULI2009