MENJADI PEMBAWA DAMAI

Menjadi pembawa damai dewasa ini merupakan hal yang penting dan mendesak.  Ketika bom teroris meledak di JW Marriot dan Ritz Carlton, kita tersentak bahwa ada orang masih membenci sesama, mengutamakan kekerasan daripada damai.  Ada upaya mengail di air keruh.  Syukurlah kita tidak terpancing oleh aksi memperkeruh suasana.  Suara hati masih berbicara dan usaha membawa damai diutamakan.  Ada benih keutamaan menjadi pembawa damai yang perlu ditumbuhkan.

Salah satu amanat Sabda Bahagia, ialah menjadi pembawa damai.  Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah (Matius 5:9).  Yesus menekankan pentingnya pembawa damai.  Pembawa damai di-sebutNya sebagai “anak-anak Allah.”  Bukankah kita semua adalah anak-anak Allah?  Dengan pembaptisan kita dimeteraikan menjadi anak-anak Allah.  Maka, menjadi pembawa damai merupakan bagian dari jatidiri kita sebagai anak-anak Allah.

Natal merupakan perayaan syukur atas kelahiran Yesus, Sang Juru Selamat.    Ketika Yesus lahir dalam palungan dan terbungkus dengan lampin, para malaikat memuji Allah :  “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang bekenan kepada-Nya.”  (Lukas 2:14).  Kedatangan-Nya mendatangkan damai bagi mereka yang berkehendak baik.  Ketika kita memperjuangkan damai, maka Allah beserta kita.

Pembawa damai merupakan anugerah dari Tuhan sendiri.  Tetapi sekaligus ditekankan juga bahwa pembawa damai merupakan keutamaan yang perlu diperjuangkan.  Untuk menjadi pembawa damai orang perlu memohon, melaksanakan dalam kehidupan agar menjadi habitus baru.  Bdk. Yakobus 3:13-18.  “Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik.  Dan buah yang terdiri dari kebenaran ditaburkan dalam damai untuk mereka yang mengadakan damai.”  (Yakobus 3:17-18)

Yesus membawa damai.  Sesudah bangkit, Dia bersabda kepada para muridNya : “Damai sejahtera bagimu.”  (Yohanes 20:21).  KedatanganNya mengenyahkan ketakutan, membuat para murid percaya dan siap diutus.  Salah satu tugas para murid adalah membawa damai.  Bukan sekedar tidak adanya perang dan pertempuran, tetapi damai karena me-ngalahkan dosa dan kematian bersama Yesus.

Pada Masa Adven kali ini, kita diajak untuk menyiapkan diri menyambut Natal.  Pertama-tama kita diajak untuk berdamai kembali dengan Tuhan, Sang Pencipta dan Penebus.  Selanjutnya, kita diajak menyadari panggilan pembawa damai dalam dan melalui keluarga kita.  Pada akhirnya, kita diajak menyebarkan warta gembira perdamaian itu dalam komunitas dan masyarakat kita.

Selamat mengikuti pertemuan Masa Adven di lingkungan dan menjadi pembawa damai bagi keluarga dan masyarakat.

Sumber : Buku Panduan Ibadat Adven 2009