DEKALOG ASSISI BAGI PERDAMAIAN

Pada tanggal 24 Februari 2002 Paus Yohanes Paulus II mengirimkan surat kepada para pemimpin pemerintahan dunia, buah pertemuan dan refleksi para pemimpin agama-agama saat bertemu di Assisi untuk menggalang doa bersama bagi perdamaian.  Buah refleksi tersebut kemudian dirumuskan sebagai “Dekalog Assisi bagi Perdamaian”.

Istilah dekalog dalam tradisi tentu diingat terkait dengan Sepuluh Perintah Allah yang diterima Musa di Gunung Sinai.  Dengan demikian, dekalog adalah ‘perjanjian’ antara Allah dengan manusia :  Allah menjadi Allah bagi manusia, dan manusia menjadi umat Allah.

Dalam nuansa tersebut, maka dekalog bagi perdamaian tersebut merupakan suatu ‘perjanjian’.  Maka, baiklah kita menyimak teks dibawah ini untuk melampiri artikel gagasan Paus Yohanes Paulus II mengenai perdamaian, agar kita pun ikut serta dalam langkah yang digalangnya; membangun janji untuk terlibat dalam membangun perdamaian dunia.

1. Kami berjanji untuk menyatakan keyakinan teguh kami, bahwa kekerasan dan terorisme bertentangan dengan semangat murni agama, dan karena itu kami mengutuk setiap bentuk kekerasan dan perang atas nama Allah atau agama, kami berjanji untuk melakukan segala hal yang memungkinkan untuk mengatasi akar-akar penyebab terorisme.

2. Kami berjanji untuk mendidik masyarakat agar saling menghargai dan menghormati satu sama lain, agar terbangun kebersamaan yang ditandai dengan damai dan persaudaraan antar sesama yang berbeda kelompok etnis, budaya dan agama.

3. Kami berjanji untuk mengembangkan budaya dialog, sehingga semakin tumbuh pemahaman dan kepercayaan satu sama lain antar pribadi dan antar kelompok, sebab hal itu adalah dasar bagi terwujudnya perdamaian sejati.

4. Kami berjanji untuk membela hak setiap pribadi untuk hidup dalam situasi hidup sesuai dengan identitas budayanya, dan membangun keluarga.

5. Kami berjanji untuk menapaki proses dialog jujur dan sabar, menolak perbedaan sebagai penghambat, namun menyadari bahwa pertemuan di tengah perbedaan dengan yang lain, dapat menjadi kesempatan akan tumbuhnya kesaling pemahaman satu sama lain yang semakin besar.

6. Kami berjanji untuk mengampuni satu sama lain, kesalahan dan prasangka masa lalu dan saat ini, dan mendukung satu sama lain dalam mengupayakan langkah untuk mengatasi keterpusatan pada diri sendiri dan arogansi, kebencian dan kekerasan, dan untuk belajar dari masa lalu bahwa perdamaian tanpa keadilan bukanlah perdamaian sejati.

7. Kami berjanji untuk berpihak pada mereka yang miskin dan tak berdaya, bersuara bagi mereka yang tak bersuara, dan bekerja secara efektif untuk mengubah situasi, berangkat dari keyakinan bahwa tak seorang pun akan bahagia sendirian.

8. Kami berjanji untuk berpihak pada mereka yang menyuarakan penolakan terhadap kekerasan dan kejahatan, dan kami akan mengupayakan setiap usaha yang memungkinkan bagi siap saja yang mendambakan harapan akan keadilan dan perdamaian.

9. Kami berjanji untuk mengupayakan setiap langkah untuk menggalang persahabatan

antar masyarakat, sebab kami meyakini bahwa tanpa adanya solidaritas dan kesaling pengertian satu sama lain, kemajuan teknologi mengarahkan dunia pada risiko besar akan kerusakan dan kematian.

10.  Kami berjanji untuk mendesak para pemimpin bangsa untuk membuat setiap usaha dalam menciptakan dan membangun, baik pada tingkat nasional maupun internasional, sebuah dunia yang ditandai dengan solidaritas dan perdamaian, yang berdasar pada keadilan.

“BAPA KAMI” PERDAMAIAN

(KPKC hal.283-284)

BAPA,

yang memandang semua orang sama-sederajat

KAMI,

setiap orang, siapapun, berjuta-juta orang yang mendiami bumi,

berapa pun umurnya, apapun warna kulitnya, dmanapun tempat lahirnya.

YANG ADA DI SURGA

dan di atas bumi dan dalam setiap pribadi

dalam diri orang yang hina dan yang menderita.

DIMULIAKANLAH NAMAMU

dalam hati laki-laki dan perempuan serta anak-anak

dan para lanjut usia yang penuh kedamaian, dimanapun.

DATANGLAH KERAJAANMU,

kerajaan damai, cinta kasih, keadilan,

kebenaran, kebebasan.

JADILAH KEHENDAKMU

selalu dan di antara semua bangsa dan orang;

DI ATAS BUMI SEPERTI DI DALAM SURGA.

Semoga rencana perdamaian-Mu tidak dirusak oleh para tiran,

oleh orang-orang yang mempercayai kekerasan.

BERILAH KAMI REJEKI;

Semoga rejeki itu diadoni damai sejahtera, cinta kasih,

membuang dari kami semua roti pertikaian dan kebencian

Yang mengembangkan rasa iri, kecemburuan dan perpecahan.

PADA HARI INI,

sebab besok mungkin sudah terlambat.

Peluru kendali sedang dibidikkan dan mungkin seseorang akan menembak.

AMPUNILAH KESALAHAN KAMI,

bukan dengan cara kami biasa mengampuni,

melainkan dengan cara Engkau mengampuni tanpa dendam,

tanpa iri hati yang terpendam.

SEPERTI KAMIPUN MENGAMPUNI YANG BERSALAH KEPADA KAMI.

JANGANLAH MASUKKAN KAMI KE DALAM PENCOBAAN

Yaitu memandang orang lain dengan penuh curiga,

Melupakan saudara-saudari kami yang berkekurangan,

Menumpuk harta yang mungkin diperlukan oleh orang lain demi kepentingan sendiri,

Hidup berkelimpahan dengan mengorbankan orang lain.

BEBASKANLAH KAMI DARI YANG JAHAT

yang mengancam kami,

dari cinta diri orang-orang yang berkuasa,

dari kematian akibat perang dan persenjataan;

Sebab banyaklah di antara kami, ya Bapa, yang ingin hidup dalam damai dan

membangun perdamaian untuk semua orang.

AMIN.

Sumber : T. Krispurwana Cahyadi, SJ, 2007, YOHANES PAULUS II, OBOR hal 368-370

Buku Panduan Ibadat Adven 2009—Komisi Kerasulan Kitab Suci KAJ