JUMAT AGUNG adalah hari laku tapa, pantang dan puasa.  Inti Perayaan ini adalah (1) Ibadat Sabda : untuk menghidupkan iman kita atas kekuatan wafat Yesus, (2) Penghormatan Salib : untuk memusatkan perhatian pada salib sebagai sumber kebahagiaan, dan (3) Komuni : untuk memberi kesempatan memetik buah salib Kristus.

Tiga hal ini sangat mendasar.  Gereja mau merenungkan penderitaan Tuhan, menghormati salib, serta mendoakan keselamatan seluruh dunia.  Gereja tidak merayakan Ekaristi, tetapi hanya ibadat.  Komuni kudus dibagikan dari sakramen yang sudah dikonsekrir pada hari Kamis Putih.  Perayaan Sabda ini mau menampilkan keikutsertaan Gereja pada detik-detik sengsara dan wafat Tuhan.

1). Ibadat Sabda

Tiap Jumat Agung selalu ditayangkan kisah sengsara Tuhan dari Injil Yohanes (18:1-19; 42).  Yesus mengadakan perjalanan ke Yerusalem untuk menuntaskan karya keselamatan Allah.  Di Yerusalem, Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati.  Ia akan diolok-olok, diludahi, disesah dan dibunuh, dan sesudah tiga hari Ia akan bangkit (Markus 10:33-34).

Rencana keselamatan Allah, apapun yang terjadi harus tetap terlaksana.  Dengan berkata, “Sudah selesai!” (Yohanes 19:30), Yesus telah menyelesaikan misi ini dengan tanpa cacat.  Dialah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.

2). Penghormatan Salib

Penghormatan akan Salib Yesus menunjukkan ungkapan iman.  Salib Yesus menunjukkan aspek keadilan : satu kematian yang sangat keji (ditinggal oleh Allah), tetapi di pihak lain menjadi faktor yang mendamaikan manusia dengan Allah dan manusia dengan manusia.  Salib adalah simbol untuk melenyapkan segala sikap yang memecah belah dan memilah-milah.  SALIB menjadi tanda kemenangan atas egoisme dan pemersatu yang menyelamatkan.

Dalam setiap doa jalan salib, kita selalu berseru, “Dengan salib suciMu, Engkau telah menebus dunia.”  Anamnesis dalam Misa menghubungkan misteri salib dan kebangkitan yang membebaskan manusia.  “Sungguh agung misteri iman kita.  Tuhan penebus dunia, dengan salib dan kebangkitanMu, Engkau membebaskan manusia.  Selamatkan kami umatMu.”  Madah Ibadat Pagi Jumat Agung sangat indah meluhurkan SALIB TUHAN.  “Salib suci nan mulia, kayu paling utama.  Tiada yang menandingi, daun bunga buahnya.  Kayu paku bahagia, memangku pangkal hidup.  Engkau kayu yang pantas mentakhtakan penebus.  Menyajikan tempat labuh bagi bumi yang karam.  Berhiaskan darah suci Anak Domba sejati…”

Syair madah ini begitu syahdu, serentak mengajak kita untuk bertelut dalam doa dan tobat.  Orang lain boleh diam, boleh menangis, boleh terpekur kaku merasa ngeri melihata salib.  Tapi kita orang beriman yakin bahwa salib Tuhan itu menyelamatkan dunia. Blum Hardt mengatakan, “Di malam Natal bala Malaikat menangis karena malam itu adalah awal dari derita Tuhan; sedangkan di saat penyaliban para Malaikat tertawa, karena itu adalah awal dari dunia baru.”

Dari pernyataan ini, kita merenungkan Jumat Agung sebagai : hari penyaliban, hari sengsara, hari pengharapan, hari ketika Yesus merasa ditinggalkan, hari kemenangan, hari harapan, hari kegembiraan, akhir suatu perjalanan, dan awal peziarahan yang baru.

3). Komuni

Salib adalah jalan duka, jalan cinta numun menjadi puncak perwujudan kasih Allah yang tak mengenal batas.  Yesus, Sang Putera, telah mengurbankan Tubuh dan DarahNya sebagai tebusan bagi dosa-dosa dunia.  Karena itu, melalui Komuni Kudus, kita bersatu padu dengan tubuh dan darah Kristus yang menjadi makanan dan minuman surgawi.  Kita boleh menikmati buah-buah karya keselamatan sebagai gambaran sukacita surgawi kelak.

SALIB TUHAN telah menyelamatakan kita.  Salib yang dianggap kebodohan dan kekonyolan menjadi tanda kemenangan.  Maka kita mengenal istilah, “tiada kemuliaan tanpa salib penderitaan.  Tiada kebangkitan tanpa kematian.” Tidak heran, dalam tradisi Gereja Katolik, kita semua memasang atau memakai salib yang masih ada corpus-nya, yaitu tubuh Kristus yang tergantung di kayu salib.  Inilah tanda bahwa karya keselamatan merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisah-pisahkan begitu saja.

Keselamatan Allah dinyatakan melalui hidup, sabda dan karya Yesus sampai penderitaan, wafat, dan kebangkitanNya yang mulia.  Semuanya tak terpisahkan.  Bagi orang Katolik, salib dengan Corpus menyadarkan kita bahwa kemuliaan kekal itu mesti diperjuangkan.  Albert Camus menegaskan, “Kematian Yesus di salib menunjuk kepada SOLIDARITAS dengan semua derita di atas bumi.”  Disinilah menuntut kerendahan hati dan ketaatan dari setia manusia.

(rwp)

Sumber : Ruah 2010  Renungan Harian Kitab Suci