Mengenang Yohanes Paulus II

“HabemusPapam!” Paus telah terpilih!…Teriakan itulah yang membuka ingatan kita pada 16 Oktober 1978, ketika Yohanes Paulus II naik menjadi Paus, pemimpin tertinggi Gereja Katolik. Umat Katolik, bukan saja di di Basilika St. Petrus ketika itu, tapi juga di seluruh dunia, semarak menyambut Paus asal Polandia, yang berarti Paus pertama dari luar Italia.Selang 27 tahun, tepatnya 2 April 2005, terdengar lagi teriakan berkumandang tentang Sang Paus, “Papa mortuusest”, Paus telah meninggal!…Kali ini, tangis yang menggema. Seluruh pelosok dunia, entah itu orang-orang terpinggirkan, anak-anak, kaum muda, tokoh keagamaan, diplomat, duta besar, pejabat pemerintahan ataupun kepala negara, semuanya melepas kepergian tokoh Katolik fenomenal itu menghadap Bapa di surga, dengan air mata.

Menjalani kurun waktu terlama dalam sejarah kepausan, Yohanes Paulus II benar-benar mensucikan tahta kepausan dengan aktifitasnya yang sungguh berkualitas. Tak sedikit yang sudah diperbaruinya. Bukan saja birokrasi dan gaya kepausan Roma, tapi juga tatanan dunia. Kiprah Yohanes Paulus II membuat komunisme porak-poranda, tembok Berlin runtuh, Vatikan meminta maaf kepada orang-orang Yahudi, karena Gereja bisu selama terjadi pembantaian lebih dari 6 juta orang Yahudi. Yohanes Paulus II juga meminta maaf atas peristiwa inkuisisi, mengkritisi kesalahan fatal dari perang salib dan meluruskan kesalahpahaman pada orang-orang, yang justru mengadakan kritik dan otokritik pada Gereja Katolik, termasuk Martin Luther, Zwingli, dan Calvin. Jiwa seni dalam darah Yohanes Paulus II, tak hanya membuat dirinya dekat dengan panggung teater, tapi juga menjadikannya aktor global dalam panggung dunia.

Di panggung politik, Paus asal Polandia yang telah ditempa oleh Perang Dunia II, ini berhasil membuat para pemimpin dan tokoh dunia mengarahkan pandangannya pada perdamaian dunia. Gorbachev, Castro, Mother Teresa, Dalai Lama, Vaclav Havel, Yasser Arafat, Ronal Reagan, Nelson Mandela dan bahkan Bush, serta banyak pemimpin dan tokoh dunia lainnya, mengakui visi dan pandangan Yohanes Paulus II sangat brilliant akan kehidupan, kemanusiaan, ko-eksistensi dan perdamaian dunia. Untuk perdamaian dunia pula, Yohanes Paulus II pernah memimpin doa bersama pelbagai tokoh agama dunia, di Asisi.

“Jangan takut !”…Kata yang dikumandangkan Malaikat Agung Gabriel pada peristiwa penyampaian kabar gembira, dan juga dikatakan Yesus kepada para muridnya yang ketakutan di perahu ketika menghadapi angin dan badai, itu pula lah yang dikumandangkan Paus ke-264 Yohanes Paulus II dalam pidato pertamanya, 22 Oktober 1978, saat memulai tugasnya.

Pada Desember 1994, Majalah Time menobatkan Paus Yohanes Paulus II sebagai Man of the Year, karena “pengaruh Paus Yohanes Paulus II terhadap dunia begitu dahsyat, terentang dan menembus dunia hingga masuk ke pribadi orang. Kekuatannya ada dalam kata-katanya”. Di PBB, Yohanes Paulus II berpidato dan membahas persoalan-persoalan krusial manusia secara universal, seperti kependudukan. Yohanes Paulus II tidak setuju dengan peralatan kontrasepsi, seperti halnya juga dengan aborsi. Tak lupa, Yohanes Paulus II juga menyampaikan keprihatinanya atas eksploitasi manusia dalam sistem perekonomian kapitalisme. Pandangannya yang tidak berpihak pada kapitalisme, kemudian membuat Gorbachev –pemimpin Uni Sovyet ketika itu, mau berdialog dengan Yohanes Paulus II. Dari situlah tercetus Glastnost dan Perestroika, yang secara pasti meruntuhkan dominasi kekuasaan Komunisme.

Jangan takut ! Perbaruilah muka bumi !”…adalah inti khotbah Yohanes Paulus II di Polandia, yang berujung pada pecahnya revolusi di negara-negara Eropa Timur. Energi yang besar membuat Yohanes Paulus II bisa mengunjungi lebih dari 150 negara. Sehingga  ia dikenal sebagai Paus Musafir. Beberapa pengamat bahkan menilai karisma Paus sangatlah luar biasa, seolah ada ribuan malaikat mengawal dan menerangi jalannya. Ia selalu mencium tanah begitu pesawatnya mendarat di bandara. Tanah, bagi Paus adalah kudus, pemberian Tuhan.

Dalam kunjungannya ke berbagai Negara, Yohanes Paulus II selalu menyapa secara pribadi orang-orang biasa. Bahkan, seperti halnya Yesus yang tak pernah mengabaikan anak-anak, Yohanes Paulus II juga menyambut hangat mereka. Dengan selalu menggendong dan mencium, ia tampak akrab dengan anak-anak. Dan tanpa rasa jijik, Yohanes Paulus II beberapa kali menggendong dan memeluk anak penderita HIV/AIDS.

Yohanes Paulus II lahir dari pasangan Karol Wojtyla dan Emilia Kaczorowska, dengan nama serupa dengan ayahnya: Karol Józef Wojtyła. Sejak kanak-kanak, cerminan pandangan mata Karol memang tajam dan serius. Apalagi kasih sayang dari seorang ibu telah hilang darinya sejak umurnya 9 tahun, karena Emilia meninggal. Praktis, panutan hidup Karol kanak-kanak adalah ayahnya, Karol yang dikenal dengan julukan “Kapten” dan Edmund, kakaknya. Bimbingan ayah dan kakaknya, membentuk karakter Karol menjadi disiplin dan serius, hingga ia mampu melewati masa kanaknya dengan kehidupan rohani yang baik. Rosario, patung Bunda Maria dan air suci menghiasi ruang tamu keluarga yang hidup sederhana dan religius ini.

Selain sudah gemar membaca filsafat, saat remaja, Yohanes Paulus II mulai mengembangkan bakatnya di bidang teater dan sepakbola. Karakter Karol di saat remaja terbentuk di kelompok teater Studio 38 dan Rhapsodic Theatre. Sehingga tidak heran, jika gaya teatrikalnya kadang muncul sewaktu menjadi Paus Yohanes Paulus II, dengan tak canggung menggoyangkan jubah, memainkan tongkat kepausan, dan bahkan harus tampil di hadapan suku atau penduduk asli daerah yang dikunjungi dengan pakaian atau adat tradisional.

Ketika Sang Kapten dan kakaknya meninggal dunia, Karol akhirnya hidup sendiri. Apalagi, teman-teman baiknya berkebangsaan Polandia dan Yahudi, satu persatu ditembaki Nazi. Karol tampil menjadi imam, menggantikan seorang imam kerabatnya yang juga dieksekusi mati oleh Nazi. Nasib Karol bagaikan Ayub, tokoh Perjanjian Lama yang ia kagumi dan pentaskan dalam teater ketika di sekolah menengah. Karol harus menerima kenyataan yang paling pahit, sampai ke titik nadir, hingga penyerahan total pada Sang Pencipta. Totustuus atau segalanya milikMu…semboyan yang dipegangnya sampai mati, ini adalah pantulan dari perjalanan hidupnya.

Saat menjadi Paus, Yohanes Paulus II memberikan maaf, segera setelah ia sembuh dari percobaan pembunuhan yang dilakukan Mahmet Ali Agca, pemuda Turki. Ia mengunjungi Agca di penjara Rebibbia, Roma, 27 Desember 1983 dan memberinya ampun. Yohanes Paulus II menunjukkan, bahwa kekerasan tidaklah harus dibalas dengan kekerasan. Bahkan, ia membina persahabatan dengan keluarga Agca. Angin pengampunan yang sejuk berhembus kencang ke seluruh dunia, membuktikan bahwa kasih lebih kuat dari rasa sakit, penderitaan, dan bahkan kematian.

Yohanes Paulus II mempersembahkan peluru yang mengenai tubuhnya pada Bunda Maria Fatima, di Gereja Black Madonna, Polandia. Ia pun menaruh sabuk yang  membentengi peluru untuk menancap dan mematikan ke bagian tubuhnya itu. Ia mengatakan, bahwa “tangan Maria” menyelamatkan dirinya.

Ketika memasuki Millenium Ketiga atau Pesta Millenium Baru, Paus Yohanes Paulus II membukanya dengan misa, dan menyebut pesta Millenium Ketiga sebagai anugerah Tuhan yang menyertai umatNya. Setelah itu, Yohanes Paulus II tetap setia memangku jabatan sebagai Paus sampai akhir hayat. Ia pun terpaksa bersusah-payah memberikan berkat dari ranjang apartemennya yang sederhana. Dengan tanpa kata terucap, hanya tangan gemetar karena Parkinson, Paus Yohanes Paulus II memberi berkat Orbietorbi, dari kota ke dunia. Walau tubuh sudah renta dan rapuh, namun sinar kemuliaan Allah yang terpancar dalam dirinya, membuat Sang Paus tetap melaksanakan misi Allah.

Yohanes Paulus II sudah pergi meninggalkan dunia, 2 April 2005…dan kini beatifikasi menjelangnya, saat perayaan Kerahiman Ilahi, 1 Mei 2011. Umat Katolik tentu menanti-nanti dengan sangat, saat ia juga dinobatkan menjadi Santo, yang selalu akan dikenang dengan kesederhanaan, kekayaan kepribadian, ide dan spritualitasnya.

***

Nama lahir            : Karol Józef Wojtyła (baca: voi-ti-wa; karɔl juzef vɔjtɨwa)

Lahir                        : 18 Mei 1920 di Wadowitz, Polandia

Wafat                       : 2 April 2005 di Istana Apostolik, Vatikan

Masa Kepausan   : 16 Oktober 19782 April 2005

Menjadi “beato”, tentu bukanlah pilihan bagi seorang Yohanes Paulus II, yang memang selalu berusaha dipenuhi kesucian dalam hidup menggereja, dan mendunia. Tak terbilang doa, tulisan, perkataan, dan perbuatan tokoh perdamaian dan pembaruan, ini menjadi inspirasi bagi banyak orang…sekaligus, sosok Yohanes Paulus II sendiri menjadi spiritualitas tersendiri di Gereja Katolik. Kesucian Yohanes Paulus pula lah yang membawa perubahan dalam Gereja Katolik.Semasa hidupnya menjadi Paus, Yohanes Paulus II, bisa dikatakan, melakukan revolusi yang cukup membuka mata Gereja Katolik. Pengakuan “beata” pada Bunda Theresia adalah satu revolusi yang dilakukan Yohanes Paulus. Jika selama ini Gereja Katolik terkungkung oleh ketatnya norma kanonisasi, maka Yohanes Paulus menerabas batas ruang dan waktu itu. Sehingga proses beatifkasi Bunda Theresia, tanpa menghilangkan esensi dan pembuktiannya, tak perlu memakan waktu yang lama. Di masa kepausan Yohanes Paulus II pula lah, proses beatifikasi banyak terjadi. Dan ini merupakan sejarah dalam peradaban Gereja Katolik.

Saat bersamaan, Yohanes Paulus II juga membuka mata Gereja Katolik akan kemajuan teknologi. Ini dibuktikannya dengan proses beatifkasi Bunda Theresia yang kemudian menjadi milik dunia, lantaran teknologi yang memungkinkan cepatnya informasi menyebar. Bukan hanya itu. Teknologi pun membuat komunitas-komunitas dalam Gereja Katolik mampu tersambung satu sama lain, tanpa terbatas ruang dan waktu.

Kini, Yohanes Paulus II sudah tiada. Namun, ia sendiri ternyata masih dihadapkan pada perubahan Gereja Katolik itu. Karena Gereja Katolik akan kembali mencatat sejarah barunya dengan peristiwa langka yang datang dari seorang Yohanes Paulus II. Calon beato, Yohanes Paulus II adalah milik awam, pastor/bruder/suster dari pelbagai ordo/kongregasi di seluruh dunia, mengingat perannya sebagai Paus, terlebih Paus Agung.

Sumber : culturadivita.info/blog

Iklan